RUMA MAIDA: Sejarah Rumah Tua Merubah Segalanya!

Thursday, 22 October 2009

Berlatar belakang sejarah kemerdekaan RI, film garapan Teddy Soeriaatmadja ini menceritakan sebuah rumah tua, yang ternyata menyimpan misteri sejarah. 

Rumah itu digunakan Maida (Atiqah Hasiholan) sebagai sekolah liar tempat mengajar beberapa anak jalanan. Maida adalah seorang mahasiswi sejarah yang tengah menggarap skripsi. 

Suatu hari, seorang pengusaha real estate, Dasaad Mukhlisin (Frans Tumbuan), membeli rumah itu dan ingin membongkarnya untuk dijadikan sentra bisnis. Untuk mengerjakan desainnya, ia merekrut seorang arsitek muda bernama Sakera (Yama Carlos). 

Sakera punya selera klasik, sedangkan Dasaad nggak suka dengan hal-hal yang berbau sejarah dan masa lalu. Meskipun begitu, keberadaan sekolah liar Maida tetap terancam. Ia dan anak-anak jalanan itu diusir secara paksa. Nggak mau tinggal diam, Maida memutar otak untuk mempertahankan rumah itu. 

Sakera dapat bocoran kalau rumah itu ada kemungkinan sengketa. Berarti, Maida masih punya peluang. Ia pun menelusuri sejarah rumah tua itu. Ternyata, rumah itu menyimpan kisah cinta yang tragis antara seorang pejuang masa kemerdekaan sekaligus seniman bernama Ishak Pahing (Nino Fernandez) dan Nani Kudus (Imelda Soraya). 

Nani tewas dibunuh, Ishak Pahing pun tewas di pesawat perang, dan anak laki-laki mereka dibawa oleh seorang tentara Jepang, Maruyama (Verdy Solaiman). Sampai akhirnya, banker rumah tua itu ditemukan Maida dengan bantuan Sakera. Diam-diam, cinta pun bersemi di antara mereka. 

Apakah yang mereka temukan dalam banker? Berhasilkah mereka mencegah Dasaad Mukhlisin merubuhkan rumah tua itu? Tonton aja filmnya! ’Ruma Maida’ akan rilis di bioskop pada 29 Oktober 2009 nanti, dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda. 

Ide film ini berawal dari keinginan sang produser eksekutif, pasangan Peter dan Lilly Setiono, membuat film bertema kebangsaan. Mereka ingin menggabungkan sutradara Teddy Soeriaatmadja dan Ayu Utami sebagai penulis cerita. Tema kebangsaan diterjemahkan jadi tiga konsep, yaitu pendidikan, keragaman dan sejarah. 

Melalui karakter Maida yang idealis, film ini bercerita tentang Indonesia saat ini. Sedangkan lewat kisah cinta seorang pejuang muda dan penyanyi keroncong di masa kemerdekaan, film ini menuturkan nilai-nilai kebangsaan yang diperjuangkan para pendiri negeri ini. 

Cerita dan pesan moral yang ingin disampaikan sangat baik untuk menumbuhkan lagi rasa kebangsaan pemuda masa kini, yang cenderung mencintai modernisasi dan melupakan sejarah. Alur film ini memang nggak linier dan kurang bertutur. 

Mungkin penonton agak sedikit terganggu dengan jalan cerita yang berbolak-balik, antara masa kini dan jaman dulu. Tapi secara sinematografi, bisa dirasakan kalau adegan dan set yang ada benar-benar di jaman kemerdekaan. Cerita film ini memang kolaborasi nonfiksi dan fiksi. Yang jelas, sejarah negeri dan sejarah anak bangsa bertemu di sini. Hidup Pemuda Indonesia!

Teks: Cutik

Foto: dok. Lamp Pictures & Karuna Pictures

 

Sumber