Teddy Soeriaatmadja; Menggali Kebangsaan & Belajar Dari Sejarah

Sosok sineas yang low profile ini sudah mencuri perhatian redaksi saat menyutradarai film yang berjudul RUANG. Ada sesuatu yang non linear dan sulit ditebak sehingga penonton mampu berimajinasi dan tertantang untuk menebak-nebak adegan demi adegan. Kini di produksi berikutnya berjudul RUMA MAIDA, Teddy makin matang dan humble.

Berikut kutipan wawancara dari rilis yang dibagikan kepada jurnalis beberapa waktu lalu:

Kabarindo (K) : Anda bisa ceritakan awal dari pembuatan film ini yang menjadi motivasinya ?
Teddy S (TS) : Saya dipanggil oleh pasangan Peter dan Lilly Setiono dan disodori sebuah skenario berjudul RUMA MAIDA yang digarap oleh Ayu Utami. Skenario itu memang masih draft pertama, sehingga tentunya masih sangat belum siap untuk shooting. Tetapi begitu saya selesai membacanya, yang saya pikirkan dan rasakan ada dua hal: cerita ini penting dan gaya seperti ini belum pernah digarap dalam perfilman Indonesia. Cerita ini penting karena berbicara tentang berbagai lapisan pesan yang isu utamanya adalah tentang Indonesia, tentang kebangsaan. Melihat kembali tentang Indonesia dan kebangsaan, menariknya, Ayu justru memilih dan mengingatkan kita untuk belajar dari sejarah. Dan sebuah rumah dipilih sebagai metafora Indonesia.

K : Apa yang Anda lakukan sebelumnya ?
TS : Bertolak dari draft pertama, saya melakukan berbagai riset sejarah dan mengembangkan cerita itu bersama-sama dengan Ayu selama dua bulan dengan intensif. Untuk riset, saya dibantu dengan banyak pihak, baik dari ahli-ahli sejarah, maupun berbagai wawancara. Hal ini saya lakukan karena sebagai sutradara, saya punya tanggung jawab agar yang disampaikan ini secara historis tidak melenceng meski bagaimanapun cerita dan film ini tetaplah fiksi. Dalam perjalanannya, hal ini bukan menjadi sekedar riset dan just trying to get it right karena dari situ saya juga belajar banyak tentang sejarah Indonesia.

K : Ada hal yang mengesankan ?
TS : Ada, ketika skenario telah selesai, menterjemahkan skenario RUMA MAIDA ke dalam film menjadi tantangan lain yang tersendiri bagi saya. Ini film pertama saya yang besar, dalam arti 3 hal yaitu melibatkan big set pieces yang besar, menyutradarai anak-anak, dan menyutradarai ensemble casts. Yang pertama merupakan konsekuensi cerita karena kita menghadirkan adegan-adegan besar seperti Jepang masuk Indonesia dan kerusuhan ’98 yang harus kita buat kembali di Semarang dengan cara termasuk memboyong Metro Mini dan Bajaj ke Semarang.

K : Bagaimana dengan talent anak-anak RUMA MAIDA ?
TS : Pekerjaan rumah yang terberat berkaitan dengan menyutradarai anak-anak adalah soal menampilkan realitas dan keluguan yang sesungguhnya. Proses casting anak-anak memang lama sekali dan saya beruntung dan bersyukur sekali akhirnya bisa kerjasama dengan mereka yang menjadi anak-anak Maida di film ini yang menurut saya, mereka semua begitu berbakat. Setelah mereka baca skenario dan tahu ceritanya, mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka bisa tampil begitu natural dan tidak kelihatan seperti berakting. Saya puas sekali bekerja sama dengan anak-anak ini. Untuk menyutradarai ensemble cast juga bukan hal yang mudah karena berbagai tokoh punya ceritanya masing-masing dan berkaitan satu sama lain. Pengalaman pertama menyutradarai ensemble casts sangat berbeda dengan pengalaman di film-film sebelumnya yang hanya fokus pada satu atau dua karakter. Saya bersyukur karena para pemain di film ini semuanya sangat profesional, mengerjakan PR mereka dan begitu luar biasa dengan antusiasme mereka. Sungguh kepuasan yang luar biasa bekerjasama dengan para aktor dan aktris di film ini.

K : Apa yang terpenting dari esensi Anda dalam film ini ?
TS : Lewat RUMA MAIDA, ada dua hal besar tentang pentingnya pendidikan dan sejarah yang merupakan roh yang saya coba keluarkan di film ini. Semoga penonton dapat merasakan dan berpikir tentang hal yang sama akan pentingnya isu-isu yang diangkat dalam film ini. Menyambut Sumpah Pemuda tahun 2009 ini, semoga kita bisa belajar banyak dari sejarah kita sendiri, menemukan kebanggaan, maupun kesalahan sehingga bisa melangkah lebih baik ke depan.

K : Salut untuk Anda dan kami tunggu karya selanjutnya......?
TS : Terima kasih.....

Sumber