Rabu , 21 October 2009-20:32:57
Kontributor : Teks: Dina Azzahra
Titik Kulminasi Kematangan Sineas Muda, Teddy S
"Berawal dari ide produser eksekutif, pasangan Peter Setiono dan Lily Harmawan untuk menggabungkan Teddy Soeriaatmadja dan Ayu Utami dalam sebuah karya, terwujudlah film RUMA MAIDA.
Blitz Megaplex GI, Jakarta, Kabarindo- RUMA MAIDA bercerita tentang Maida, gadis kikuk yang idealis, yang mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Disulapnya sisi dalam bangunan rongsok itu bagai istana putri salju dan para kurcaci. Meja dan bangku dibuat dari sisa kayu. Perlengkapan kelas dibuat bersama dari barang bekas. Pada suatu hari, seorang pengusaha membeli kavling itu dan hendak mengubahnya menjadi sentra bisnis. Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Maida berjuang keras untuk mempertahankan istananya. Dalam perjuangannya, Maida justru menyibak misteri rumah tua tersebut. Bangunan itu adalah saksi bisu atas kisah cinta yang syahdu dan tragis antara dua insan di tengah perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Rumah merupakan metafora bagi negeri kita, Indonesia. Jika kita menghancurkan rumah itu, kita menghancurkan sejarah negeri kita. Melalui tokoh Maida, film ini bercerita tentang Indonesia masa kini. Tentang perjuangan seorang gadis muda yang idealis untuk mendirikan sekolah gratis. Melalui kisah cinta seorang penerbang dan penyanyi di masa kemerdekaan, film ini berkisah tentang nilai-nilai kebangsaan yang diperjuangkan para pendiri negeri ini.
“Saya menerjemahkan isu kebangsaan dalam tiga tema: pendidikan, keragaman, dan sejarah. Itulah tiga topik penting jika kita bicara kebangsaan Indonesia. Sekarang ini, pendidikan masih kurang, kebhinekaan terancam oleh orang-orang yang tidak toleran, dan masyarakat tidak mengerti sejarah. Lagi pula, saya ingin melihat Indonesia dengan optimis. Sebetulnya banyak anak-anak muda yang idealis. Antara lain, Butet Manurung yang membuat Sokola Rimba (sekolah untuk anak suku pedalaman). Butet Manurung adalah inspirasi saya buat tokoh Maida Manurung. Di tengah segala ketidakberesan, kita melihat anak-anak muda Indonesia yang masih punya cita-cita dan rela berkorban. Saya ingin agar tokoh-tokoh seperti ini lebih dilihat lagi oleh publik agar memberi inspirasi lebih luas,” papar Ayu lebih lanjut. “Bagi saya, cerita ini penting untuk disampaikan dan belum pernah ada yang seperti ini dalam perfilman Indonesia. Dan sebenarnya, begitu banyak lapisan pesan-pesan yang disampaikan dalam skenario film ini. Sebagai sutradara, dua hal besar tentang pentingnya pendidikan dan sejarah merupakan roh yang saya coba keluarkan di film ini,” imbuh Teddy.
Mengambil lokasi shooting di Jakarta dan Semarang, proses pengambilan gambar RUMA MAIDA memakan waktu satu bulan. Tantangan terbesar berkaitan dengan berbagai set yang harus dibangun sesuai dengan periode sejarahnya. Pengambilan gambar di Semarang dilakukan untuk adegan-adegan sebelum masa kemerdekaan, juga termasuk adegan kerusuhan Mei 1998 yang tidak mungkin dilakukan di Jakarta sehingga harus memboyong Metro Mini dan Bajaj ke Semarang misalnya. Sementara tantangan bagi sutradara berkaitan dengan menyutradarai anak-anak dan ensemble cast. “Saya belum pernah menyutradarai anak-anak dan di sini saya belajar bahwa yang penting jangan over directing them. Kita harus membuat anak-anak itu senyaman mungkin dan have fun di lokasi shooting. Hal seperti itu justru berhasil membuat anak-anak tampil natural, apa adanya. Selain anak-anak, saya juga belum pernah menangani ensemble cast karena film-film saya sebelumnya Banyu Biru, Ruang, dan Badai Pasti Berlalu, selalu hanya ada satu atau dua tokoh sentral. Sementara di film ini, berbagai tokoh hadir dengan berbagai jalinan cerita terkait satu sama lain. Itu merupakan tantangan dan pengalaman yang sangat menarik,” ujar Teddy.
Lebih lanjut Ayu berkata, "Saya diminta untuk menulis naskah film bertema kebangsaan. Saya diberi kebebasan untuk merumuskan tema apapun oleh mereka. Karena itu, saya menerjemahkan isu kebangsaan dalam tiga tema: pendidikan, keragaman, dan sejarah. Itulah tiga topik penting jika kita bicara kebangsaan Indonesia,” lanjut Ayu. “Saya sendiri baru dipanggil untuk bergabung setelah draft pertama skenarionya selesai. Begitu saya baca, ceritanya memang bagus. Dengan cerita yang berbicara tentang sejarah dan interpretasi sejarah, saya melakukan riset, kemudian saya dan Ayu mengembangkan cerita itu bersama-sama selama dua bulan, seminggu ketemu dua kali, sampai skenario final siap untuk shooting,” terang Teddy.
Mendapuk Ical Tanjung sebagai penata gambar, sinematografi RUMA MAIDA dibedakan dengan jelas antara masa sebelum kemerdekaan dan masa reformasi. Masa sebelum kemerdekaan diwakili lewat gambar-gambar artificial, kamera statis, tidak terlalu close-up seperti halnya foto-foto jaman dulu. Sementara itu gambar-gambar masa reformasi diambil sesuai dengan apa adanya, kameranya handheld. Jajaran kru lainnya seperti Indra Tamorron Musu (penata artistik), Khikmawan Santosa (tata musik), Shaft Daultsyah (tata suara), Ve Verdinand (tata kostum), dan Waluyo Ichwan Diardono (penyunting gambar). Grup band NAIF mengisi soundtrack dengan mengaransemen ulang lagu-lagu Juwita Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Ibu Pertiwi selain lagu “Keroncong Tenggara” yang diciptakan Ayu Utami dan dinyanyikan langsung oleh pemeran Nani Kuddus, Imelda Soraya.
Di jajaran pemain, Atiqah Hasiholan berperan sebagai Maida, Yama Carlos sebagai Sakera, Frans Tumbuan sebagai Dasaad Muchlisin, Imelda Soraya sebagai Nani Kuddus, Nino Fernandez sebagai Ishak Pahing, serta para pemain lain seperti Davina Veronica Hariadi, Wulan Guritno, Verdi Solaiman, Hengky Solaiman, anak-anak Maida yaitu Lucky Martin, Yehuda Rumbini, Alivia Aurice Pradiesha, Insos Sabarofek, Yobel Nathaniel, dan Imam Nurbuwono sebagai Bung Karno. “Ayu memberikan deskripsi karakter-karakter yang ada di RUMA MAIDA ini dengan sangat detil termasuk tinggi badan. Hal ini sangat memudahkan saya untuk membayangkan mereka,” ujar Teddy. “Dalam bayangan saya, memang langsung Atiqah sebagai Maida dan tak ada orang lain yang bisa memainkan peran sebagai Dasaad Muchlisin selain Frans Tumbuan. Yama awalnya di-casting sebagai Bung Karno, tapi wajahnya kurang cocok dan ketika saya melihat rekaman casting Imam Nurbuwono sebagai Bung Karno, dia cocok sekali. Tetapi Yama bagus dan kita panggil lagi untuk casting sebagai Sakera, ternyata dialah yang cocok sebagai Sakera. Imelda Soraya memang dipilih karena wajahnya yang klasik dan bisa menyanyi keroncong. Wulan Guritno juga langsung dipilih. Untuk peran Kolonel Maruyama tadinya saya mencari orang Jepang, tetapi Verdi Solaiman meminta saya untuk memperbolehkannya ikut casting dan mempertimbangkannya. Verdi ternyata mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik. Dia berhasil meyakinkan saya dan bahkan bisa memakai bahasa Jepang dengan baik di adegan-adegan yang penting. Sementara itu, Nino justru masuk terakhir-terakhir karena tadinya sudah ada yang memerankan karakter Ishak Pahing tapi harus mundur karena jadwal yang tidak cocok dan ketika casting, Nino ternyata pas sebagai Ishak Pahing dan secara jadwal juga tidak masalah.”
Nantikan 29 Oktober 2009 di jaringan bioskop 21 dan Blitzmegaplex dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Sumber