|
Naif : Di Bawah Sinar Bulan Purnama Bersama Juwita Malam Untuk Ibu Pertiwi
Jika menyebut nama David, Jarwo, Emil dan Pepeng, pasti Anda langsung ingat Naif. Band yang sedang sibuk memproduksi album terbarunya ‘Planet Cinta’ ini, terpaksa untuk berhenti sejenak dan justru mereka memilih untuk merampungkan sebuah proyek terbaru. “Kami baru saja menyelesaikan lagu soundtrack sebuah film baru,” kata David yang sedang promo debut album solonya, Dvd Boy.
Film yang dimaksud David adalah film besutan Teddy Soeriaatmadja, yang berjudul Rumah Maida. Di film yang diangkat berdasarkan cerita pendek Ayu Utami ini, Naif dipercaya untuk mengisi soundtrack sebanyak 3 buah lagu. “Kami menggarap ulang tiga lagu jaman baheula yang berjudul Juwita Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Ibu Pertiwi, dan tentunya dengan gaya Naif,” jelas Emil. Meskipun band yang pernah meluncurkan album ‘a Night at Schouwburg’ dengan format double cd yang diberi nomor seri ini hanya punya waktu yang teramat singkat untuk produksi yaitu seminggu, tapi mereka bisa menyelesaikan album tersebut dengan baik. “Tapi toh akhirnya kelar juga,” kata Jarwo sambil menyeringai bangga, “semua ini berkat bantuan Allah, juga kerjasama tim Naif yang baik, juga tentunya keringat saya...hahaha.” Gitaris berambut panjang ini memang dipercaya untuk ketiga rekannya untuk memegang peranan utama dalam proses rekaman, mixing, dan kadang mastering juga. Karena Jarwo dianggap paling sensitif dengan suara dan diakui paling mahir mengopersikan alat rekam studio. Mereka juga mengakui belum pasti apakah ketiga lagunya akan diproduksi dalam bentuk album soundtrack. “Kemungkinan diproduksi album soundtrack memang ada, meskipun tidak diproduksi, kami akan menyimpannya untuk masuk di album kami yang berikutnya,” papar Emir. Ketiga lagu tersebut rencananya juga akan di-share lewat My Space Naif agar bisa didengar oleh KawaNAIF (Fans Naif). Rumah Maida sendiri menceritakan tentang Maida seorang gadis kikuk yang idealis. Telah dua tahun ia mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Disulapnya sisi dalam bangunan rongsok itu bagai istana putri salju dan para kurcaci. Meja dan bangku dibuat dari sisa kayu. Perlengkapan kelas dibuat bersama dari barang bekas. Pada suatu hari, seorang pengusaha membeli kavling itu dan hendak mengubahnya menjadi sentra bisnis. Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Maida berjuang keras untuk mempertahankan istananya. Dalam perjuangannya, Maida justru menyibak misteri dan sejarah bangunan tua tersebut. Bangunan itu pernah menjadi saksi atas kisah cinta yang syahdu dan tragis antara dua insan dengan latar pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Melalui tokoh Maida, film ini bercerita tentang Indonesia masa kini. Tentang perjuangan seorang gadis muda yang idealis untuk mendirikan sekolah gratis. Melalui kisah cinta zaman lampau antara seorang penerbang dan penyanyi, film ini berkisah tentang nilai-nilai kebangsaan yang diperjuangkan para pendiri negeri ini. Jadi, kita tunggu saja bagaimana lagu-lagu re-make ala band yang kerap berpenampilan retro, Naif, menghiasi film yang berdurasi 1,5 jam ini. Sumber |
![]() |